<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6681692905049313265</id><updated>2011-10-18T07:39:14.943-07:00</updated><title type='text'>PengantarPendidikan</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6681692905049313265/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>sri wahyuni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18340717578851580625</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/__9FWAmLkVaQ/SAWrq-w-ozI/AAAAAAAAAAU/_GiS1ju7f7g/S220/Winter.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6681692905049313265.post-4943018823493891640</id><published>2008-07-14T00:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-14T00:24:27.896-07:00</updated><title type='text'>estetika dan etika pendidikan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 85%;"&gt;NILAI ETIKA DAN ESTETIKA DALAM BERBUDAYA&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Secara historis perkembangan zaman boleh saja mengalami perubahan yang dahsyat. Namun, peran kesenian tidak akan pernah berubah dalam tatanan kehidupan manusia. Sebab, melalui media kesenian, makna harkat menjadi citra manusia berbudaya semakin jelas dan nyata.&lt;br /&gt;Bagi manusia Indonesia telanjur memiliki meterai sebagai bangsa yang berbudaya. Semua itu dikarenakan kekayaan dari keragaman kesenian daerah dari Sabang sampai Merauke yang tidak banyak dimiliki bangsa lain. Namun, dalam sekejap, pandangan terhadap bangsa kita menjadi ”aneh” di mata dunia. Apalagi dengan mencuatnya berbagai peristiwa kerusuhan, dan terjadinya pelanggaran HAM yang menonjol makin memojokkan nilai-nilai kemanusiaan dalam potret kepribadian bangsa.&lt;br /&gt;Padahal, secara substansial bangsa kita dikenal sangat ramah, sopan, santun dan sangat menghargai perbedaan sebagai aset kekayaan dalam dinamika hidup keseharian. Transparansi potret perilaku ini adalah cermin yang tak bisa disangkal. Bahkan, relung kehidupan terhadap nilai-nilai etika, moral dan budaya menjadi bagian yang tak terpisahkan. Namun, kenyataannya kini semuanya telah tercerabut dan ”nyaris” terlupakan.&lt;br /&gt;Barangkali ada benarnya, dalam potret kehidupan bangsa yang amburadul ini, kita masih memiliki wadah BKKNI (Badan Koordinasi Kebudayaan Nasional Indonesia) yang mengubah haluan dalam transformasi sosial, menjadi BKKI (Badan Kerja sama Kesenian Indonesia) pada Februari lalu. Barangkali dengan baju dan bendera baru ini, H. Soeparmo yang terpilih sebagai ”bidannya” dapat membawa reformasi struktural dan sekaligus dapat memobilisasi aktivitas kesenian sebagaimana kebutuhan bangsa kita. Sebab, salah satu tugas dalam peran berkesenian adalah membawa kemerdekaan dan kebebasan kreativitas bagi umat manusia sebagai dasar utama.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;          Tulang Punggung&lt;br /&gt;Suatu dimensi baru, jika dalam pola kebijakan untuk meraih citra sebagai manusia Indonesia dapat diwujudkan. Untuk hal tersebut, kebijakan menjadi bagian yang substansial sifatnya. Bukan memberi penekanan pada konsep keorganisasian, sebagai bendera baru dalam praktik kebebasan. Melainkan, bercermin pada kebutuhan manusia terhadap kebenaran, dan nilai-nilai keadilan. Sehingga, kesenian dapat menjadi tulang punggung mempererat kehidupan yang lebih tenang, teduh dan harmonis.&lt;br /&gt;Dalam koridor menjalin kesatuan dan persatuan bangsa, dan mengangkat citra kehidupan manusia Indonesia di mata dunia, perlu adanya upaya yang tangguh dan kokoh. Sebab, tanpa upaya tersebut niscaya kita hanya mengenang masa silam dan mengubur masa depan dari lahirnya sebuah peradaban. Dalam hal ini kita sebagai bangsa yang dikenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, tentu tidak akan rela.&lt;br /&gt;Namun demikian, gradasi budaya itu menukik tajam, dan dapat dirasakan sejak jatuhnya rezim Soeharto. Meskipun, pada rezim kekuasaan Orde Baru bukan berarti tidak ada sama sekali pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan, justru karena terselubung dengan rapi maka ”borok” kemerosotan moral itu tidak begitu tampak. Tetapi, kini semuanya menjadi serba terbuka dan menganga. Siapa pun punya hak dan kewajiban untuk menjadi ”pelaku” reformasi, tidak sekadar jadi penonton. Itu sebabnya, tidaklah salah jika dalam memperbaiki kondisi bangsa, kita juga proaktif dalam menyikapinya.&lt;br /&gt;Tak dapat disangkal, jika kesenian merupakan kebutuhan dasar manusia secara kodrati dan unsur pokok dalam pembangunan manusia Indonesia. Tanpa kesenian, manusia akan menjadi kehilangan jati diri dan akal sehat. Sebab, kebutuhan manusia itu bukan hanya melangsungkan hajat hidup semata, tetapi juga harus mengedepankan nilai-nilai etika dan estetika. Untuk wujudkan manusia dewasa yang sadar akan arti pentingnya manusia berbudaya, obat penawar itu barangkali adalah kesenian.&lt;br /&gt;Unsur penciptaan manusia sebagai proses adalah konteks budaya. Dalam hal ini, apa yang diimpikan Konosuke Matsushita dalam bukunya Pikiran Tentang Manusia menjadi dasar pijakan kita, jika ingin menjadi manusia seutuhnya. Sebab, pada dasarnya manusia membawa kebahagiaan dan mengajarkan pergaulan yang baik dan jika perlu memaafkan sesamanya. Karena, dari sinilah dapat berkembang kesenian, kesusastraan, musik dan nilai-nilai moral. Sehingga, pikiran manusia menjadi cerah dan jiwanya menjadi kaya.&lt;br /&gt;Bertalian dengan konteks itu, Soeparmo dalam ceramahnya di depan pengurus daerah juga mengatakan hal yang sama. Artinya, jika manusia sudah tidak mampu menjalankan tugas kreativitasnya, maka manusia itu menjadi mandek dan mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;          Kondisi Semrawut&lt;br /&gt;Carut marut kehidupan saat ini, semakin tumpang tindih. Persoalan bangsa menjadi bara api yang sulit untuk dipadamkan. Kondisi sosial yang tidak lagi bersahabat, menjadikan manusia makin kehilangan jati dirinya. Bahkan berbagai ramalan menatap masa depan bangsa, hanya berisi pesimistis dan sinis. Jika kearifan yang dimiliki manusia semakin sempit dan terbatas, barangkali kegelisahan sebagai anak bangsa semakin beralasan.&lt;br /&gt;Potret sosial yang kini menjadi skenario massal masih menjadi tekanan dalam konteks berpolitik. Akibatnya, pertarungan yang tidak pernah akan menyelesaikan masalah terus berjalan tanpa ada ”rem” nya. Dan itu dapat kita lihat secara kasat mata, pertunjukan ”dagelan” yang hanya untuk memuaskan nafsu kekuasaan dan ingin menunjukkan kekuatan dalam menggalang massa.&lt;br /&gt;Padahal, tugas sebagai manusia yang berbudaya senantiasa mengulurkan cinta kasih, perdamaian dan menjaga harmoni kehidupan. Tetapi, kenyataannya sikap dan perilaku dalam potret masa kini, nilai-nilai etika, norma-norma sosial, dan hukum moral menjadi ”haram” untuk dijadikan landasan berpikir yang sehat. Bahkan, upaya untuk berani membohongi diri sendiri, adalah ciri-ciri lenturnya nilai-nilai budaya.&lt;br /&gt;Dimensi sosial semacam ini, Indonesia di mata dunia semakin menjadi bahan lelucon. Apalagi yang harus dijadikan komoditi bangsa dari berbagai aspek kehidupan.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Bicara soal ekonomi, bangsa Indonesia sudah menggadaikan diri nasibnya pada IMF. Soal politik, dianggap ”ludrukan” karena hanya sekadar entertainment. Dan lebih mengerikan lagi, pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di daerah-daerah membuat bingkai kemanusiaan semakin tidak memiliki harga diri. Dan masih banyak persoalan seputar kita yang semakin semrawut dan kehilangan konteks dalam pijakan untuk membangun manusia seutuhnya.&lt;br /&gt;Jalan pintas melalui kesenian, barangkali masih bisa menjadi ”mediasi” silahturahmi di mata dunia. Karena dalam pendekatan kesenian, estika, etika, dan hukum moral merupakan ekspresi yang tidak pernah bicara soal kalah menang. Melainkan, dalam korelasi budaya pintu melalui kesenian masih bisa dijadikan komoditi yang bisa dijadikan akses kepercayaan.&lt;br /&gt;Apalagi dengan diberikannya kebebasan terhadap otonomi daerah, melalui undang-undang No.22/1999 harus dipandang sebagai suatu masa pencerahan dalam pembangunan manusia seutuhnya. Karena dengan otoritas yang ada, daerah dapat membangun wilayahnya dan pengembangan terhadap kesenian tidak lagi dijadikan ”proyek” yang sentralistik di pusat, Jakarta. Kebebasan akan hal ini, harus dijadikan peluang untuk membangun potensi yang ada.&lt;br /&gt;Karena itu makna pembangunan, jangan hanya dilihat dari sukses dan tidaknya sarana jalan tol, pasar swalayan, mal-mal atau bahkan tempat-tempat hiburan yang kini sedang ”menggoda” mata budaya. Padahal ada hal yang lebih penting dari pesan Eric From dalam bukunya Manusia Bagi Dirinya bahwa, ”Ketidakharmonisan eksistensi, manusia menimbulkan kebutuhan yang jauh melebihi kebutuhan asli kebinatangannya. Kebutuhan-kebutuhan ini menimbulkan dorongan yang memaksa untuk memperbaiki sebuah kesatuan dan keseimbangan antara dirinya dan bagian alam.”&lt;br /&gt;Jika demikian masalahnya, masihkah kita men-dewa-kan pembangunan dalam arti yang harafiah sebagai lingkup keberadaan manusia. Sebab masih ada yang lebih substansial, pembangunan manusia seutuhnya lewat kesenian adalah cermin bagi kepribadian bangsa. Ironis, selama ini kita hanya terlena dalam memikirkan nasib bangsa dari sisi pembangunan perut semata. Akibatnya, dari waktu ke waktu, kita hanya bisa merenungi peradaban baru yang membawa bangsa ini semakin bodoh.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;          Penulis adalah pemerhati masalah&lt;br /&gt;oleh Drs.Nirwanto&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6681692905049313265-4943018823493891640?l=wahyuniunindrabio2a.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/feeds/4943018823493891640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6681692905049313265&amp;postID=4943018823493891640' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6681692905049313265/posts/default/4943018823493891640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6681692905049313265/posts/default/4943018823493891640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/2008/07/estetika-dan-etika-pendidikan.html' title='estetika dan etika pendidikan'/><author><name>sri wahyuni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18340717578851580625</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/__9FWAmLkVaQ/SAWrq-w-ozI/AAAAAAAAAAU/_GiS1ju7f7g/S220/Winter.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6681692905049313265.post-7585687549346183516</id><published>2008-07-14T00:13:00.000-07:00</published><updated>2008-07-14T00:14:26.289-07:00</updated><title type='text'>Nilai estetika dan etika dalam pendidikan</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Pragmatisme dan kekerasan kaum terdidik&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;img src="http://www.wawasandigital.com/images/stories/berita/7%20Pragmatisme%2021.png" style="float: left;" alt="Image" title="Image" border="0" height="150" hspace="6" width="104" /&gt;PERGESERAN&lt;/strong&gt; paradigma pendidikan tak semuanya membawa keuntungan. Selalu ada kelemahan, selalu ada celah kekurangan. Semula kita menganut paham bahwa pendidikan untuk membentuk karakter budi pekerti anak didik, namun pada gilirannya kemudian kita menganut paham pendidikan untuk melakukan transfer pengetahuan pada siswa. Kini kita sepaham, pendidikan diarahkan demi pemberdayaan siswa. Akan tetapi, mengapa kekerasan dan dehumanisasi justru kian mengeras, merasuki kehidupan geng remaja yang terselubung organisasi? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Bersamaan dengan gairah mencapai mutu pendidikan, kita mengadopsi Total Quality Management, yang dicangkok dari dunia industri. Kesalahan itu terjadi ketika kita menjadi pragmatis, bahkan sangat pragmatis, untuk mencapai mutu pendidikan yang mengutamakan kepuasan ”pelanggan” (siswa, orang tua siswa, dan masyarakat).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Siswa dinyatakan lulus dan berprestasi dengan standar angkaangka UN. Siswa melanjutkan pendidikan ditentukan pula dengan angkaangka UN dan kemampuan menanggung biaya pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Tak ada lagi pembinaan budi pekerti. Tak ada lagi pembinaan moralitas. Tak ada lagi religiusitas. Lenyap sudah eksistensi para siswa sebagai manusia berbudaya. Bahkan, penalaran, sikap kritis, humanisme, lenyap dibentak ke bawah telapak kaki. Terjadilah kejutan-kejutan penyimpangan yang dilakukan kaum terdidik, di antaranya kekerasan geng yang dilakukan para siswa. Betapa tak berdaya moralitas guru, orang tua, dan masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;***&lt;br /&gt;Kekerasan yang dilakukan kaum terdidik terhadap yuniornya demi tuntutan eksistensialisme remaja, menandai krisis jati diri dan moralitas, terselubung mata rantai geng yang merasuk antargenerasi. Ini buah kegagalan pendidikan keluarga dan masyarakat, yang mencorengkan aib di lingkungan sekolah. Apalagi kini dunia pendidikan kita telah terjebak pada paham pragmatisme itu ketika mengutamakan hasil (angka UN) yang diraih dengan jalan pintas (drill), dan bukan pemberdayaan nilai-nilai dan pengetahuan dalam penerapan kehidupan sehari-hari untuk menghadapi arus kuat goncangan kebudayaan di masa sekarang dan yang akan datang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Memang banyak hal yang dianjurkan Total Quality Management (TQM) dalam pendidikan yang tak berbasis pragmatisme. Banyak di antara prinsip TQM selaras dengan kehendak kita melakukan pemberdayaan para siswa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Prinsip kaizen adalah perbaikan sedikit demi sedikit (step by step improvement), membangun kesuksesan dan kepercayaan diri siswa dan mengembangkan dasar peningkatan selanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Prinsip kaizen ini diinggkari dunia pendidikan kita. Tergoda kita untuk melakukan lompatan-lompatan besar, melupakan perkembangan proses demi proses. Kita lebih suka perubahan berskala besar yang pragmatis: penerapan kurikulum baru, memacu pembelajaran berskala global (imersi), membuka kelas akselerasi, dan pengadaan sarana-prasarana yang dibebankan para orangtua siswa melalui sumbangan pengembangan institusi (SPI).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Keunggulan kaum terdidik diarahkan pada pencapaian angka-angka kelulusan UN. Begitu mudah kita mengidentifikasi kesuksesan pendidikan dengan angka-angka UN. Bukan dengan perubahan kultur. Bukan dengan religiuasitas. Bukan dengan humanisme. Bukan dengan budi pekerti. Estetika dan etika telah jauh dicampakkan di bawah telapak kaki para siswa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Penganiayaan senior terhadap yuniornya dalam geng-geng remaja belakangan ini menampakkan betapa para siswa tidak memiliki kebajikan. Bahkan, mungkin, mengalami kepribadian terbelah (split personality), yang menampakkan kealiman di sekolah, tetapi melakukan kekerasan di gengnya untuk menemukan krisis eksistensial.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Penyimpangan terhadap kebanggaan identitas diri yang menyeret para siswa melakukan kekerasan dan militerisme, demi ”ketangguhan”, menampakkan kebanggaan semu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Mengapa sekolah-skeolah kita tidak menyempurnakan proses pendidikan sebagai charakter building, dan bukan sekadar transfer of knowledge? Sekolah-sekolah kita, dalam siasat mencapai kelulusan UN dengan angka yang tinggi, melakukan drill yang jauh lebih buruk dari proses transfer of knoowledge.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Tidakkah kita terketuk untuk memulai kembali pendidikan dengan semangat kecintaan, saling menghormati, saling menyayangi, dan saling asah-asuh? Tidakkah kita ingin mengembalikan pendidikan sebagai proses pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan nilai-nilai? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Sudah mendesak, bagi kita sekarang, untuk melakukan pendidikan karakter melalui estetika (sastra, seni) dan etika (akhlak, moral, budi pekerti). Jadikan kedua unsur ini sebagai kriteria kenaikan kelas atau kelulusan. Atau, kalau memang kita ingin melakukan pendidikan karakter, belum terlambat untuk mematok kriteria kelulusan UN dengan estetika, etika, dan logika.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Jelas, untuk melakukan penilaian ini, guru yang bersangkutanlah yang memiliki peran, karena memahami perkembangan siswa secara langsung. Bukan negara yang merampas hak untuk menguji dan meluluskan siswa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Mestinya guru menjadi model dan teladan bagi pembentukan pendidikan karakter. Para siswa yang unggul dalam estetika dan etika, mendapat penghargaan dan menjadi teladan bagai siswa yang lain. Selama ini kita selalu memuja pada prestasi sains, dan mengabaikan pencapaian-pencapaian prestasi estetika dan etika.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Segala upaya untuk mencapai prestasi sains selalu dianggap sebagai unggulan, sementara estetika dan etika dicampakkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;***&lt;br /&gt;Atmosfer pendidikan karakter yang merasuk dalam keseharian interaksi guru-siswa, tentu akan membalikkan krisis pekerti dan spiritualisme. Pragmatisme yang diterapkan para manajer pendidikan, sekilas memang mencapai prestasi sebagaimana yang diharapkan pemerintah, tetapi sungguh akan merusak karakter bangsa. Kita membentuk karakter manusia yang menyukai jalan pintas, keuntungan - keuntungan yang bersifat sementara, tanpa peduli dengan penderitaan orang lain. Terjadilah dehumanisasi kaum terdidik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Sebagaimana Sokrates, mestinya guru membela ajaran ”yang benar” dan ”yang baik” sebagai nilai-nilai objektif yang harus diterima dan dijunjung tinggi oleh semua orang. Jangan dibiarkan anak didik mengembangkan pengalaman - pengalamannya sendiri yang menyimpang adri etika dan humanisme.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Jadikanlah sekolah sebagai proses pembudayaan (enkulturisasi) peserta didik. Dengan demikian, mereka menjadi manusia yang memiliki keadaban (civility) yang mengembangkan kecerdasan sosial, spiritual dan moral.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Kekuatan pembelajaran etika dan estetika akan mengembalikan para siswa menjadi manusia yang memiliki nilai humanisme dan cita rasa keindahan, yang biasanya dekat dengan pencerahan jiwa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;Ini mencegah kebrutalan. Menjauhkan para siswa dari perilaku sadis dan meretas ikatan-ikatan jaringan geng yang terselubung dalam dunia pendidikan. &lt;em&gt;hf&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:tahoma,arial,helvetica,sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;S Prasetyo Utomo&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Dosen IKIP PGRI Semarang,&lt;br /&gt;mahasiswa pascasarjana program&lt;br /&gt;Magister Manajemen Pendidikan UMS&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6681692905049313265-7585687549346183516?l=wahyuniunindrabio2a.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/feeds/7585687549346183516/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6681692905049313265&amp;postID=7585687549346183516' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6681692905049313265/posts/default/7585687549346183516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6681692905049313265/posts/default/7585687549346183516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/2008/07/nilai-estetika-dan-etika-dalam.html' title='Nilai estetika dan etika dalam pendidikan'/><author><name>sri wahyuni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18340717578851580625</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/__9FWAmLkVaQ/SAWrq-w-ozI/AAAAAAAAAAU/_GiS1ju7f7g/S220/Winter.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6681692905049313265.post-7680760668738749042</id><published>2008-07-14T00:00:00.000-07:00</published><updated>2008-07-14T00:02:47.047-07:00</updated><title type='text'>Standar kompetisi dan KTSP Biologi SMA</title><content type='html'>&lt;div class="post-body entry-content"&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" lang="id-ID"&gt; &lt;b&gt;Standar Kompetensi - Kompetensi Dasar KurikulumTingkat Satuan Pendidikan (K T S P ) Mata Pelajaran Biologi untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) /Madrasah Aliyah (MA)&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;&lt;b&gt;A. Latar Belakang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt; Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan &lt;b&gt;cara mencari tahu (&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;inquiry&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;)&lt;/b&gt; tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya sebagai penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA di sekolah menengah diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dirinya sendiri dan alam sekitar.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt; Biologi sebagai salah satu bidang IPA menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dan proses sains. Keterampilan proses ini meliputi keterampilan mengamati, mengajukan hipotesis, menggunakan alat dan bahan secara baik dan benar dengan selalu mempertimbangkan keamanan dan keselamatan kerja, mengajukan pertanyaan, menggolongkan dan menafsirkan data, serta mengkomunikasikan hasil temuan secara lisan atau tertulis, menggali dan memilah informasi faktual yang relevan untuk menguji gagasan-gagasan atau memecahkan masalah sehari-hari.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt; Mata pelajaran &lt;b&gt;Biologi dikembangkan melalui kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif&lt;/b&gt; untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa alam sekitar. Penyelesaian masalah yang bersifat kualitatif dan kuantitatif dilakukan dengan menggunakan pemahaman dalam bidang matematika, fisika, kimia dan pengetahuan pendukung lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.21cm;"&gt;&lt;b&gt;B. Tujuan &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" lang="sv-SE"&gt; Mata pelajaran Biologi bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;Membentuk sikap positif terhadap biologi dengan menyadari keteraturan dan keindahan alam serta mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;Memupuk  sikap ilmiah yaitu jujur, objektif, terbuka, ulet, kritis dan dapat  bekerjasama dengan orang lain&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;Mengembangkan pengalaman untuk dapat mengajukan dan menguji hipotesis melalui percobaan, serta mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan tertulis&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;Mengembangkan  kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif dengan  menggunakan konsep dan prinsip biologi   &lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;Mengembangkan penguasaan konsep dan prinsip biologi dan saling keterkaitannya dengan IPA lainnya serta mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap percaya diri&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;Menerapkan  konsep dan prinsip biologi untuk menghasilkan karya teknologi  sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan manusia&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm;" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Meningkatkan  kesadaran dan berperan serta dalam menjaga kelestarian lingkungan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-top: 0.21cm;" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;b&gt;C. Ruang&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;b&gt;Lingkup &lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; Mata pelajaran Biologi di SMA / MA merupakan kelanjutan IPA di SMP/MTs yang menekankan pada fenomena alam dan penerapannya yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut.&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;Hakikat biologi, keanekaragaman hayati dan pengelompokan makhluk hidup, hubungan antarkomponen ekosistem, perubahan materi dan energi, peranan manusia dalam keseimbangan ekosistem&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;Organisasi seluler, struktur jaringan, struktur dan fungsi organ tumbuhan, hewan dan manusia serta penerapannya dalam konteks sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.21cm;" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Proses yang terjadi pada tumbuhan, proses metabolisme, hereditas, evolusi, bioteknologi dan implikasinya pada sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat.&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;a href="http://aansma11.blogspot.com/2007/06/ktsp-biologi-smama.html"&gt;Sumber: http://aansma11.blogspot.com/2007/06/ktsp-biologi-smama.html&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer"&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-1"&gt; &lt;span class="post-author vcard"&gt; Diposting oleh &lt;span class="fn"&gt;Setia R. Apriliani&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-timestamp"&gt; di &lt;a class="timestamp-link" href="http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/2008/06/latar-belakang-sk-biologi-smama.html" rel="bookmark" title="permanent link"&gt;&lt;abbr class="published" title="2008-06-23T01:48:00-07:00"&gt;01:48&lt;/abbr&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="star-ratings"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-comment-link"&gt; &lt;a class="comment-link" href="comment.g?blogID=1955919338640523101&amp;amp;postID=3209407091029835779" onclick=""&gt;0 komentar&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-backlinks post-comment-link"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-icons"&gt; &lt;span class="item-control blog-admin pid-712434660"&gt; &lt;a href="post-edit.g?blogID=1955919338640523101&amp;amp;postID=3209407091029835779" title="Edit Posting"&gt; &lt;img alt="" class="icon-action" src="img/icon18_edit_allbkg.gif" /&gt; &lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt; &lt;div class="post-footer-line post-footer-line-2"&gt; &lt;span class="post-labels"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;   &lt;a name="4237032141831568945"&gt;&lt;/a&gt; &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://setia-unindra-bio2b.blogspot.com/2008/06/sk-dan-kd-biologi-smama.html"&gt;SK dan KD Biologi SMA/MA..&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;   &lt;p lang="sv-SE"&gt;&lt;b&gt;Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Biologi SMA/MA&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kelas X, Semester 1 &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;table border="1" cellpadding="2" cellspacing="0" width="96%"&gt;  &lt;col width="110"&gt;  &lt;col width="146"&gt;  &lt;thead&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="43%"&gt;     &lt;p style="border: 1pt solid rgb(0, 0, 0); padding: 0.05cm 0.19cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Standar Kompetensi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="57%"&gt;     &lt;p style="border-style: solid solid solid none; border-color: rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0.05cm 0.19cm 0.05cm 0cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Kompetensi Dasar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/thead&gt;  &lt;tbody&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="43%"&gt;     &lt;p style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0); border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 0.19cm 0.05cm; margin-left: 0.33cm; text-indent: -0.33cm; margin-top: 0.21cm;"&gt;     1. Memahami hakikat Biologi sebagai ilmu      &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="57%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.85cm; text-indent: -0.85cm; margin-top: 0.32cm;"&gt;     1.1 Mengidentifikasi ruang lingkup Biologi      &lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.85cm; text-indent: -0.85cm; margin-top: 0.32cm;"&gt;     &lt;span lang="sv-SE"&gt;1.2 Mendeskripsikan objek dan permasalahan biologi pada berbagai tingkat organisasi kehidupan (molekul, sel, jaringan, organ, individu, populasi, ekosistem, dan bioma)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="43%"&gt;     &lt;p style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0); border-width: medium 1pt 1pt; padding: 0cm 0.19cm 0.05cm; margin-left: 0.33cm; text-indent: -0.33cm; margin-top: 0.21cm;"&gt;     2. Memahami prinsip-prinsip pengelompokan makhluk hidup      &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="57%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.85cm; text-indent: -0.85cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     2.1 Mendeskripsikan ciri-ciri, replikasi, dan peran virus dalam     kehidupan&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.85cm; text-indent: -0.85cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     2.2 Mendeskripsikan ciri-ciri Archaeobacteria dan Eubacteria dan     peranannya bagi kehidupan&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.85cm; text-indent: -0.85cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     2.3 Menyajikan ciri-ciri umum filum dalam kingdom Protista, dan     peranannya bagi kehidupan&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.85cm; text-indent: -0.85cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt; 2.4 Mendeskripsikan ciri-ciri dan jenis-jenis jamur berdasarkan hasil pengamatan, percobaan, dan kajian literatur serta peranannya bagi kehidupan&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kelas X, Semester 2 &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;table border="1" cellpadding="2" cellspacing="0" width="96%"&gt;  &lt;col width="110"&gt;  &lt;col width="146"&gt;  &lt;thead&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="43%"&gt;     &lt;p style="border: 1pt solid rgb(0, 0, 0); padding: 0.05cm 0.19cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Standar Kompetensi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="57%"&gt;     &lt;p style="border-style: solid solid solid none; border-color: rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0.05cm 0.19cm 0.05cm 0cm; margin-right: 0.36cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Kompetensi Dasar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/thead&gt;  &lt;tbody&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td rowspan="2" width="43%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;"&gt;     3. Memahami manfaat keanekaragaman hayati&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="57%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.71cm; text-indent: -0.71cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.1 Mendeskripsikan konsep keanekaragaman gen, jenis, ekosistem,     melalui kegiatan pengamatan      &lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.71cm; text-indent: -0.71cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.2 Mengkomunikasikan keanekaragaman hayati Indonesia, dan usaha     pelestarian serta pemanfaatan sumber daya alam&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.71cm; margin-right: 0.36cm; text-indent: -0.71cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.3 Mendeskripsikan ciri-ciri Divisio dalam Dunia Tumbuhan dan     peranannya bagi kelangsungan hidup di bumi&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.71cm; text-indent: -0.71cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.4 Mendeskripsikan ciri-ciri Filum dalam Dunia Hewan dan     peranannya bagi kehidupan&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="57%"&gt;     &lt;p style="margin-left: 0.71cm; margin-right: 0.36cm; text-indent: -0.71cm;"&gt;   &lt;br /&gt;  &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="43%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt; 4. Menganalisis hubungan antara komponen ekosistem, perubahan materi dan energi serta peranan manusia dalam keseimbangan ekosistem&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="57%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.71cm; text-indent: -0.71cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt; 4.1 Mendeskripsikan peran komponen ekosistem dalam aliran energi dan daur biogeokimia serta pemanfaatan komponen ekosistem bagi kehidupan&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.71cm; text-indent: -0.71cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt; 4.2 Menjelaskan keterkaitan antara kegiatan manusia dengan masalah perusakan/pencemaran lingkungan dan pelestarian lingkungan&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.71cm; text-indent: -0.71cm; margin-top: 0.21cm;" lang="de-DE"&gt;     4.3 Menganalisis jenis-jenis limbah dan daur ulang limbah&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.74cm; text-indent: -0.74cm; margin-top: 0.21cm;"&gt;     4.4 Membuat produk daur ulang limbah      &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kelas XI, Semester 1&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;table border="1" cellpadding="2" cellspacing="0" width="95%"&gt;  &lt;col width="109"&gt;  &lt;col width="147"&gt;  &lt;thead&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: 1pt solid rgb(0, 0, 0); padding: 0.05cm 0.19cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Standar Kompetensi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border-style: solid solid solid none; border-color: rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0.05cm 0.19cm 0.05cm 0cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Kompetensi Dasar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/thead&gt;  &lt;tbody&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     1. Memahami struktur dan fungsi sel sebagai unit terkecil     kehidupan&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.78cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;"&gt;     &lt;span lang="sv-SE"&gt;1.1 Mendeskripsikan komponen kimiawi sel,     struktur dan fungsi sel sebagai unit terkecil kehidupan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.78cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;"&gt;     &lt;span lang="sv-SE"&gt;1.2 Mengidentifikasi organela sel tumbuhan dan     hewan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.78cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;"&gt;     &lt;span lang="sv-SE"&gt;1.3 Membandingkan mekanisme transpor pada     membran (difusi, osmosis, transport aktif, endositosis,     eksositosis)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt; 2. Memahami keterkaitan antara struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dan hewan, serta penerapannya dalam konteks Salingtemas&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.78cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt; 2.1 Mengidentifikasi struktur jaringan tumbuhan dan mengaitkannya dengan fungsinya, menjelaskan sifat totipotensi sebagai dasar kultur jaringan&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.78cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     2.2 Mendeskripsikan struktur jaringan hewan Vertebrata dan     mengaitkannya dengan fungsinya&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt; 3. Menjelaskan struktur dan fungsi organ manusia dan hewan tertentu, kelainan/penyakit yang mungkin terjadi serta implikasinya pada Salingtemas&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.78cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt; 3.1 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem gerak pada manusia&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.78cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt; 3.2 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem peredaran darah&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kelas XI, Semester 2 &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;table border="1" cellpadding="2" cellspacing="0" width="95%"&gt;  &lt;col width="109"&gt;  &lt;col width="147"&gt;  &lt;thead&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: 1pt solid rgb(0, 0, 0); padding: 0.05cm 0.19cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Standar Kompetensi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border-style: solid solid solid none; border-color: rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0.05cm 0.19cm 0.05cm 0cm; margin-left: 0.77cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Kompetensi Dasar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/thead&gt;  &lt;tbody&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt; 3. Menjelaskan struktur dan fungsi organ manusia dan hewan tertentu, kelainan dan/atau penyakit yang mungkin terjadi serta implikasinya pada Salingtemas&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.77cm; text-indent: -0.76cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt; 3.3 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem pencernaan makanan pada manusia dan hewan (misalnya ruminansia) &lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.77cm; text-indent: -0.76cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt; 3.4 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem pernapasan pada manusia dan hewan (misalnya burung) &lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.77cm; text-indent: -0.76cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt; 3.5 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem ekskresi pada manusia dan hewan (misalnya pada ikan dan serangga)&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.77cm; text-indent: -0.76cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt; 3.6 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem regulasi manusia (saraf, endokrin, dan penginderaan)&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.77cm; text-indent: -0.76cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt; 3.7 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses yang meliputi pembentukan sel kelamin, ovulasi, menstruasi, fertilisasi, kehamilan, dan pemberian ASI, serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem reproduksi manusia&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.77cm; text-indent: -0.76cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.8 Menjelaskan mekanisme pertahanan tubuh terhadap benda asing     berupa antigen dan bibit penyakit      &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kelas XII, Semester 1 &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;table border="1" cellpadding="2" cellspacing="0" width="96%"&gt;  &lt;col width="109"&gt;  &lt;col width="147"&gt;  &lt;thead&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: 1pt solid rgb(0, 0, 0); padding: 0.05cm 0.19cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Standar Kompetensi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border-style: solid solid solid none; border-color: rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0.05cm 0.19cm 0.05cm 0cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Kompetensi Dasar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/thead&gt;  &lt;tbody&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     1. Melakukan percobaan pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan         &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.83cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     1.1 Merencanakan percobaan pengaruh faktor luar terhadap     pertumbuhan tumbuhan&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.83cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     1.2 Melaksanakan percobaan pengaruh faktor luar terhadap     pertumbuhan tumbuhan      &lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.83cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;"&gt;     &lt;span lang="sv-SE"&gt;1.1 Mengkomunikasikan hasil percobaan pengaruh     faktor luar terhadap pertumbuhan tumbuhan &lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;"&gt;     2. Memahami pentingnya proses metabolisme pada organisme&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.83cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     2.1 Mendeskripsikan fungsi enzim dalam proses metabolisme&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.83cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     2.2 Mendeskripsikan proses katabolisme dan anabolisme karbohidrat&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.83cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     2.3 Menjelaskan keterkaitan antara proses metabolisme karbohidrat     dengan metabolisme lemak dan protein      &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3. Memahami penerapan konsep dasar dan prinsip-prinsip hereditas     serta implikasinya pada Salingtemas&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.83cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.1 Menjelaskan konsep gen, DNA, dan kromosom&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.83cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.2 Menjelaskan hubungan gen (DNA)-RNA-polipeptida dan proses     sintesis protein&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.83cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.3 Menjelaskan keterkaitan antara proses pembelahan mitosis dan     meiosis dengan pewarisan sifat&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.83cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.4 Menerapkan prinsip hereditas dalam mekanisme pewarisan sifat&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.83cm; text-indent: -0.78cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     3.5 Menjelaskan peristiwa mutasi dan implikasinya dalam     Salingtemas&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kelas XII, Semester 2 &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;table border="1" cellpadding="2" cellspacing="0" width="96%"&gt;  &lt;col width="109"&gt;  &lt;col width="147"&gt;  &lt;thead&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: 1pt solid rgb(0, 0, 0); padding: 0.05cm 0.19cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Standar Kompetensi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border-style: solid solid solid none; border-color: rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) rgb(0, 0, 0) -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding: 0.05cm 0.19cm 0.05cm 0cm; margin-top: 0.21cm;" align="center"&gt;     &lt;b&gt;Kompetensi Dasar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/thead&gt;  &lt;tbody&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     4. Memahami teori evolusi serta implikasinya pada Salingtemas&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.76cm; text-indent: -0.76cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     4.1 Menjelaskan teori, prinsip, dan mekanisme evolusi biologi&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.76cm; text-indent: -0.76cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     4.2 Mengkomunikasikan hasil studi evolusi biologi&lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.76cm; text-indent: -0.76cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     4.3 Mendeskripsikan kecenderungan baru tentang teori evolusi      &lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="42%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.64cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     5. Memahami prinsip-prinsip dasar bioteknologi serta implikasinya     pada Salingtemas&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;td width="58%"&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.76cm; text-indent: -0.76cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     5.1 Menjelaskan arti, prinsip dasar, dan jenis-jenis bioteknologi         &lt;/p&gt;     &lt;p style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 0.76cm; text-indent: -0.76cm; margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;     5.2 Menjelaskan dan menganalisis peran bioteknologi serta     implikasi hasil-hasil bioteknologi pada Salingtemas&lt;/p&gt;    &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;  &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.21cm;" lang="sv-SE"&gt;&lt;b&gt;E. Arah Pengembangan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.64cm; margin-top: 0.21cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;b&gt;Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian&lt;/b&gt;. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian.&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;a href="http://aansma11.blogspot.com/2007/06/ktsp-biologi-smama.html"&gt;Sumber: http://aansma11.blogspot.com/2007/06/ktsp-biologi-smama.html&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6681692905049313265-7680760668738749042?l=wahyuniunindrabio2a.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/feeds/7680760668738749042/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6681692905049313265&amp;postID=7680760668738749042' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6681692905049313265/posts/default/7680760668738749042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6681692905049313265/posts/default/7680760668738749042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/2008/07/standar-kompetisi-dan-ktsp-biologi-sma.html' title='Standar kompetisi dan KTSP Biologi SMA'/><author><name>sri wahyuni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18340717578851580625</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/__9FWAmLkVaQ/SAWrq-w-ozI/AAAAAAAAAAU/_GiS1ju7f7g/S220/Winter.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6681692905049313265.post-3128959650374415130</id><published>2008-07-13T23:55:00.001-07:00</published><updated>2008-07-13T23:55:50.535-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(102, 102, 204);"&gt;PERATURAN&lt;br /&gt;MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL&lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 24 TAHUN 2006&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;PELAKSANAAN&lt;br /&gt;PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 22 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR ISI UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 23 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR KOMPETENSI&lt;br /&gt;LULUSAN UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH&lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;br /&gt;MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,&lt;br /&gt;Menimbang : bahwa agar Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dapat dilaksanakan di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah secara baik, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah;&lt;br /&gt;Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496);&lt;br /&gt;Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tatakerja Kementrian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2005;&lt;br /&gt;Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 mengenai Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005;&lt;br /&gt;Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah;&lt;br /&gt;Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah;&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN:&lt;br /&gt;Menetapkan : PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 22 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR ISI UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 23 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR KOMPETENSI LULUSAN UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH.&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;Satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan berdasarkan pada :&lt;br /&gt;Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 36 sampai dengan Pasal 38;&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 5 sampai dengan Pasal 18, dan Pasal 25 sampai dengan Pasal 27;&lt;br /&gt;Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah;&lt;br /&gt;Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.&lt;br /&gt;Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengembangkan kurikulum dengan standar yang lebih tinggi dari Standar Isi sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Standar Kompentesi Lulusan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.&lt;br /&gt;Pengembangan dan penetapan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah memperhatikan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).&lt;br /&gt;Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengadopsi atau mengadaptasi model kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun oleh BSNP.&lt;br /&gt;Kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh kepala satuan pendidikan dasar dan menengah setelah memperhatikan pertimbangan dari Komite Sekolah atau Komite Madrasah.&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menerapkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah mulai tahun ajaran 2006/2007.&lt;br /&gt;Satuan pendidikan dasar dan menengah harus sudah mulai menerapkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah paling lambat tahun ajaran 2009/2010.&lt;br /&gt;Satuan pendidikan dasar dan menengah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang telah melaksanakan uji coba kurikulum 2004 secara menyeluruh dapat menerapkan secara menyeluruh Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah untuk semua tingkatan kelasnya mulai tahun ajaran 2006/2007.&lt;br /&gt;Satuan pendidikan dasar dan menengah yang belum melaksanakan uji coba kurikulum 2004, melaksanakan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah secara bertahap dalam waktu paling lama 3 tahun, dengan tahapan :&lt;br /&gt;Untuk sekolah dasar (SD), madrasah ibtidaiyah (MI), dan sekolah dasar luar biasa (SDLB):&lt;br /&gt;- tahun I : kelas 1 dan 4;&lt;br /&gt;- tahun II : kelas 1,2,4, dan 5;&lt;br /&gt;- tahun III : kelas 1,2,3,4,5 dan 6.&lt;br /&gt;Untuk sekolah menengah pertama (SMP), madrasah tsanawiyah (MTs), sekolah menengah atas (SMA), madrasah aliyah (MA), sekolah menengah kejuruan (SMK), madrasah aliyah kejuruan (MAK), sekolah menengah pertama luar biasa (SMPLB), dan sekolah menengah atas luar biasa (SMALB) :&lt;br /&gt;- tahun I : kelas 1;&lt;br /&gt;- tahun II : kelas 1 dan 2;&lt;br /&gt;- tahun III : kelas 1,2, dan 3.&lt;br /&gt;Penyimpangan terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan setelah mendapat izin Menteri Pendidikan Nasional.&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;Gubernur dapat mengatur jadwal pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, untuk satuan pendidikan menengah dan satuan pendidikan khusus, disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan di provinsi masing-masing.&lt;br /&gt;Bupati/walikota dapat mengatur jadwal pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, untuk satuan pendidikan dasar, disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan di kabupaten/kota masing-masing.&lt;br /&gt;Menteri Agama dapat mengatur jadwal pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, untuk satuan pendidikan madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyah (MTs), madrasah aliyah (MA), dan madrasah aliyah kejuruan (MAK), disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan satuan pendidikan yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;BSNP melakukan pemantauan perkembangan dan evaluasi pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, pada tingkat satuan pendidikan, secara nasional.&lt;br /&gt;BSNP dapat mengajukan usul revisi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah sesuai dengan keperluan berdasarkan pemantauan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah:&lt;br /&gt;menggandakan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, serta mendistribusikannya kepada setiap satuan pendidikan secara nasional;&lt;br /&gt;melakukan usaha secara nasional agar sarana dan prasarana satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mendukung penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan:&lt;br /&gt;melakukan sosialisasi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun BSNP, terhadap guru, kepala sekolah, pengawas, dan tenaga kependidikan lainnya yang relevan melalui Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) dan/atau Pusat Pengembangan dan Penataran Guru (PPPG);&lt;br /&gt;melakukan sosialisasi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dan panduan penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun BSNP kepada dinas pendidikan provinsi, dinas pendidikan kabupaten/kota, dan dewan pendidikan;&lt;br /&gt;membantu pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dalam penjaminan mutu satuan pendidikan dasar dan menengah agar dapat memenuhi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, melalui LPMP.&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional:&lt;br /&gt;mengembangkan model-model kurikulum sebagai masukan bagi BSNP;&lt;br /&gt;mengembangkan dan mengujicobakan model-model kurikulum inovatif;&lt;br /&gt;mengembangkan dan mengujicobakan model kurikulum untuk pendidikan layanan khusus;&lt;br /&gt;bekerjasama dengan perguruan tinggi dan/atau LPMP melakukan pendampingan satuan pendidikan dasar dan menengah dalam pengembangan kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah;&lt;br /&gt;memonitor secara nasional penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, mengevaluasinya, dan mengusulkan rekomendasi kebijakan kepada BSNP dan/atau Menteri;&lt;br /&gt;mengembangkan pangkalan data yang rinci tentang pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi:&lt;br /&gt;melakukan sosialisasi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, di kalangan lembaga pendidikan tenaga keguruan (LPTK);&lt;br /&gt;memfasilitasi pengembangan kurikulum dan tenaga dosen LPTK yang mendukung pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;Sekretariat Jenderal melakukan sosialisasi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, kepada pemangku kepentingan umum.&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;Departemen lain yang menyelenggarakan satuan pendidikan dasar dan menengah :&lt;br /&gt;melakukan sosialisasi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah sesuai dengan kewenangannya dan berkoordinasi dengan Departemen Pendidikan Nasional;&lt;br /&gt;mengusahakan secara nasional sesuai dengan kewenangannya agar sarana, prasarana, dan sumber daya manusia satuan pendidikan yang berada di bawah kewenangannya mendukung pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah;&lt;br /&gt;melakukan supervisi, memantau, dan mengevaluasi pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah sesuai dengan kewenangannya.&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini, Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan :&lt;br /&gt;Nomor 060/U/1993 tentang Kurikulum Pendidikan Dasar;&lt;br /&gt;Nomor 061/U/1993 tentang Kurikulum Sekolah Menengah Umum;&lt;br /&gt;Nomor 080/U/1993 tentang Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan; dan&lt;br /&gt;Nomor 0126/U/1994 tentang Kurikulum Pendidikan Luar Biasa;&lt;br /&gt;dinyatakan tidak berlaku bagi satuan pendidikan dasar dan menengah sejak satuan pendidikan dasar dan menengah yang bersangkutan melaksanakan Peraturan Menteri ini sebagaimana diatur dalam Pasal 2 dan Pasal 3.&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.&lt;br /&gt;Ditetapkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal 2 Juni 2006&lt;br /&gt;MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,&lt;br /&gt;TTD.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6681692905049313265-3128959650374415130?l=wahyuniunindrabio2a.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/feeds/3128959650374415130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6681692905049313265&amp;postID=3128959650374415130' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6681692905049313265/posts/default/3128959650374415130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6681692905049313265/posts/default/3128959650374415130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/2008/07/peraturan-menteri-pendidikan-nasional.html' title=''/><author><name>sri wahyuni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18340717578851580625</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/__9FWAmLkVaQ/SAWrq-w-ozI/AAAAAAAAAAU/_GiS1ju7f7g/S220/Winter.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6681692905049313265.post-4710023056190647330</id><published>2008-07-13T23:45:00.001-07:00</published><updated>2008-07-13T23:45:53.519-07:00</updated><title type='text'>keunikan tuna netra</title><content type='html'>&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="cattitle"&gt;&lt;a rel="bookmark" href="http://ramaditya.multiply.com/reviews/item/2"&gt;Kalau Tunanetra Nge-blog &amp;amp; Main Game Online (detikINET)&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="itemsubsub"&gt;&lt;nobr&gt;Dec 25, '07  9:54 PM&lt;/nobr&gt;&lt;br /&gt;for everyone&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table style="font-weight: bold; margin-bottom: 5px;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="70"&gt;Category:&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Other&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Senin, 19/11/2007 10:38 WIB&lt;br /&gt;Catatan oleh Rama&lt;br /&gt;Kalau Tunanetra Nge-blog dan Main Game Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta - Pembaca, tentunya kita sudah tak asing lagi dengan yang namanya komputer atau notebook. Kegiatan seperti membuat dokumen atau spreadsheet, browsing&lt;br /&gt;internet, berkomunikasi via messenger, atau bermain game, semuanya dapat kita lakukan dengan menggunakan perangkat tersebut. Terlepas apakah Anda seorang&lt;br /&gt;ahli komputer atau bukan, tentunya tidaklah menjadi masalah berarti bagi Anda untuk mengoperasikan berbagai aplikasi di PC, karena Anda memiliki penghlihatan&lt;br /&gt;yang dapat membantu Anda memahami apa yang terpampang di monitor. Namun, bagaimana dengan tunanetra yang kini juga mulai akrab dengan komputer?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilangnya fungsi penglihatan, baik separuh atau seluruhnya, sudah pasti akan menyulitkan seseorang dalam mengoperasikan komputer. Pasalnya, sekitar 90%&lt;br /&gt;informasi disajikan dalam bentuk visual. Artinya, dibutuhkan indera penglihatan yang baik untuk dapat menerima informasi yang disajikan komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, bagaimana dengan tunanetra? Mungkinkah mereka mengoperasikan komputer jika "melihat saja sulit?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu sudah terjawab dengan lahirnya berbagai teknologi asistif yang dapat membantu tunanetra mengoperasikan komputer. Salah satunya adalah screen&lt;br /&gt;reader (seperti yang penulis gunakan), yaitu jenis aplikasi yang memungkinkan tunanetra bekerja dengan aplikasi Office, berselancar di internet, bahkan&lt;br /&gt;chat via Yahoo! Messenger. Screen reader akan mengolah teks atau obyek yang muncul di layar monitor menjadi keluaran suara. Contoh, jika cursor digerakkan&lt;br /&gt;ke icon bertuliskan Recycle Bin, maka akan terdengar bunyi "Recycle Bin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi masalah berikutnya, ternyata tak semua aplikasi atau halaman website dapat diakses oleh screen reader. Masih banyak obyek-obyek yang tidak&lt;br /&gt;terbaca atau sulit diakses tunanetra, sehingga tak semua aplikasi atau website dapat dinikmati oleh tunanetra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi hal tersebut, berbagai programer dan desainer website berusaha mengembangkan aplikasi dan halaman website yang "aksesibel." Artinya, aplikasi&lt;br /&gt;dan website tersebut harus dapat diakses dengan mudah oleh pengguna tunanetra, tanpa mengurangi kenyamanan pengguna normal yang memperoleh informasi dari&lt;br /&gt;elemen visual yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuat aplikasi atau halaman website yang aksesibel bagi tunanetra, kita tak perlu menghilangkan sedikit pun unsur grafis yang ada di dalamnya,&lt;br /&gt;seperti image, flash, atau video. Kita hanya perlu menambahkan sedikit skrip yang memungkinkan screen reader mengenali obyek tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, kita memasang foto penulis yang sedang mengoperasikan laptop, maka kita cukup menambahkan skrip yang akan memerintahkan screen reader membaca&lt;br /&gt;"Gambar Ramaditya sedang mengoperasikan laptop" saat cursor berada pada image tersebut. Keterangan "Gambar Ramaditya sedang mengoperasikan laptop" tidak&lt;br /&gt;harus muncul di layar, yang penting dapat dibaca oleh screen reader.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penambahan shortcut juga akan mempermudah tunanetra mengakses sebuah halaman website. Misalnya, ada tiga menu utama yaitu HOME, ABOUT, dan CONTACT US.&lt;br /&gt;Kita dapat membuat shortcut untuk langsung mengakses menu tersebut, misalnya ALT+H untuk HOME, ALT+A untuk ABOUT, dan ALT+C untuk CONTACT US.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut mengenai pembuatan aplikasi dan website yang aksesibel, silahkan mengacu pada berbagai sumber yang ada di Internet, atau melalui situs WWW&lt;br /&gt;CONSORTIUM di alamat&lt;br /&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://www.w3c.org/"&gt;http://www.w3c.org&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, berikut ini beberapa contoh aplikasi dan website yang sudah aksesibel. Untuk mencobanya, kita dapat memakai salah satu screen reader yang cukup terkenal,&lt;br /&gt;yaitu JAWS for Windows, yang demonya dapat diperoleh di&lt;br /&gt;&lt;a rel="nofollow" href="http://www.freedomscientific.com/"&gt;http://www.freedomscientific.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(situs ini juga aksesibel).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6681692905049313265-4710023056190647330?l=wahyuniunindrabio2a.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/feeds/4710023056190647330/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6681692905049313265&amp;postID=4710023056190647330' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6681692905049313265/posts/default/4710023056190647330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6681692905049313265/posts/default/4710023056190647330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/2008/07/keunikan-tuna-netra.html' title='keunikan tuna netra'/><author><name>sri wahyuni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18340717578851580625</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/__9FWAmLkVaQ/SAWrq-w-ozI/AAAAAAAAAAU/_GiS1ju7f7g/S220/Winter.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6681692905049313265.post-9191303901863496595</id><published>2008-06-19T21:40:00.001-07:00</published><updated>2008-06-19T21:41:15.111-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-family: &amp;quot;Tempus Sans ITC&amp;quot;;"&gt;ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Tempus Sans ITC&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 51, 153);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;ESENSIALISME&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(51, 51, 153);"&gt;Esensialisme&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(51, 51, 153);"&gt; adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(51, 51, 153);" lang="SV"&gt;Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, di mana serta terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(51, 51, 153);" lang="SV"&gt;Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing.&lt;br /&gt;Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut esensialisme, karena itu timbul pada zaman itu, esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Maka, disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta, yang memenuhi tuntutan zaman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(51, 51, 153);" lang="SV"&gt;Tokoh-tokoh Esensialisme&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(51, 51, 153);" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="_Toc188114304"&gt;&lt;i&gt;1. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831)&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;Georg Wilhelm Friedrich HegelHegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual.&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a name="_Toc188114305"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(51, 51, 153);" lang="SV"&gt;2. George Santayana&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(51, 51, 153);" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal, karena minat, perhatian dan pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(51, 51, 153);" lang="SV"&gt;Pandangan Esensialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(51, 51, 153);" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="_Toc188114308"&gt;&lt;i&gt;1. Pandangan Essensialisme Mengenai Belajar&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. Menurut idealisme, bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri, terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(51, 51, 153);"&gt;Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(51, 51, 153);" lang="SV"&gt;belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(51, 51, 153);"&gt;Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(51, 51, 153);" lang="SV"&gt;2.Pandangan Essensialisme Mengenai Kurikulum&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(51, 51, 153);" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(51, 51, 153);" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 102, 204);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri;" lang="SV"&gt;PROGRESIVISME&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri; color: rgb(51, 102, 204);" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Progresivisme&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri; color: rgb(51, 102, 204);" lang="SV"&gt; adalah suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri; color: rgb(51, 102, 204);"&gt;Beberapa tokoh dalam aliran ini : &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=George_Axtelle&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="George Axtelle (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 204); text-decoration: none;"&gt;George Axtelle&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=William_O._Stanley&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="William O. Stanley (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 204); text-decoration: none;"&gt;William O. Stanley&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ernest_Bayley&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Ernest Bayley (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 204); text-decoration: none;"&gt;Ernest Bayley&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lawrence_B._Thomas&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Lawrence B. Thomas (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 204); text-decoration: none;"&gt;Lawrence B. Thomas&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Frederick_C._Neff&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Frederick C. Neff (belum dibuat)"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 204); text-decoration: none;"&gt;Frederick C. Neff&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri; color: rgb(51, 102, 204);"&gt;Progravisme mempunyai konsep yang didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi dan mengatasi maslah-masalah yang bersifat menekan atau mengancam adanya manusia itu sendiri (Barnadib, 1994:28). Oleh karena kemajuan atau progres ini menjadi suatu statemen progrevisme, maka beberapa ilmu pengetahuan yang mampu menumbuhkan kemajuan dipandang merupakan bagian utama dari kebudayaan yang meliputi ilmu-ilmu hayat, antropologi, psikologi dan ilmu alam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri; color: rgb(51, 102, 204);" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri; color: rgb(51, 102, 204);" lang="SV"&gt;Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas, aktivitas, belajar "naturalistik", hasil belajar "dunia nyata" dan juga pengalaman teman sebaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri; color: rgb(51, 102, 204);" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri; color: rgb(51, 102, 204);" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri; color: rgb(51, 102, 204);"&gt;Tokoh-tokoh Progresivisme&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 102, 204);"&gt;&lt;a name="_Toc188114288"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri;"&gt;William James&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri;"&gt; (11 Januari 1842 – 26      Agustus 1910)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri; color: rgb(51, 102, 204);" lang="SV"&gt;James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari eksistensi organik, harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis, dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 102, 204);"&gt;&lt;a name="_Toc187508298"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri;"&gt;John Dewey&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri;"&gt; (1859 - 1952)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri; color: rgb(51, 102, 204);" lang="SV"&gt;Teori Dewey tentang sekolah adalah "Progressivism" yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri; color: rgb(51, 102, 204);"&gt;Maka muncullah "Child Centered Curiculum", dan "&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;Child&lt;/st1:placename&gt; &lt;st1:placename st="on"&gt;Centered&lt;/st1:placename&gt;  &lt;st1:placetype st="on"&gt;School&lt;/st1:placetype&gt;&lt;/st1:place&gt;". Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="3" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 102, 204);"&gt;&lt;a name="_Toc187508299"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri;"&gt;Hans Vaihinger&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri;"&gt; (1852 - 1933)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri; color: rgb(51, 102, 204);" lang="SV"&gt;Hans VaihingerMenurutnya tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Persesuaian dengan obyeknya tidak mungkin dibuktikan; satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya (dalam bahasa Yunani Pragma) untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia. Segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata; jika pengertian itu berguna. untuk menguasai dunia, bolehlah dianggap benar, asal orang tahu saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali kekeliruan yang berguna saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri; color: rgb(51, 102, 204);" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri; color: rgb(51, 102, 204);" lang="SV"&gt;Pandangan Progesivisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri; color: rgb(51, 102, 204);" lang="SV"&gt;Anak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya, tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain, Oleh karena itu filsafat progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Sebab, pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. Dan sekaligus mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;(fleksibel) dan terbuka. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya.Sifat kurikulumnya adalah kurikulum yang dapat direvisi dan jenisnya yang memadai, yaitu yang bersifat eksperimental atau tipe Core Curriculum.&lt;br /&gt;Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi didalam lingkungan yang komplek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri; color: rgb(51, 102, 204);" lang="SV"&gt;Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah, melainkan harus terintegrasi dalam unit. Dengan demikian core curriculum mengandung ciri-ciri integrated curriculum, metode yang diutamakan yaitu problem solving.&lt;br /&gt;Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit, diharapkan anak dapat berkembang secara fisik maupun psikis dan dapat menjangkau aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(102, 102, 153);"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                                                &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;3.&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;; color: maroon;" lang="SV"&gt;PERENIALISM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;; color: maroon;" lang="SV"&gt;Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme berasal dari kata perennial yang berarti abadi, kekal atau selalu. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Jalan yang ditempuh oleh kaum perenialis adalah dengan jalan mundur ke belakang, dengan menggunakan kembali nilai nilai atau prinsip prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kuat, kukuh pada zaman kuno dan abad pertengahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;; color: maroon;"&gt;Pandangan perenialisme tentang pendidikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kaum perenialis berpandangan bahwa dalam dunia yang tidak menentu dan penuh kekacauan serta mambahayakan tidak ada satu pun yang lebih bermanfaat daripada kepastian tujuan pendidikan, serta kestabilan dalam perilaku pendidik. Mohammad Noor Syam (1984) mengemukakan pandangan perenialis, bahwa pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;; color: maroon;" lang="SV"&gt;Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;; color: maroon;" lang="SV"&gt;Beberapa pandangan tokoh perenialisme terhadap pendidikan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.5pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;; color: maroon;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;; color: maroon;" lang="SV"&gt;Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal (Plato) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.5pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;; color: maroon;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;; color: maroon;" lang="SV"&gt;Perkemhangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya ( Aristoteles) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.5pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;; color: maroon;" lang="SV"&gt;Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;; color: maroon;"&gt;(Thomas Aquinas) &lt;span style=""&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 28.5pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;; color: maroon;"&gt;&lt;span style=""&gt;                                                                             &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;; color: maroon;" lang="SV"&gt;Tokoh-tokoh Perenialisme&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: maroon;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;;"&gt;Plato&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;; color: maroon;" lang="SV"&gt;. Tujuan utama pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar akan asas normative dan melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: maroon;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;;"&gt;Aristoteles&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;; color: maroon;" lang="SV"&gt;. Ia menganggap penting pembentukan kebiasaan pada tingkat pendidikan usia muda dalam menanamkan kesadaran menurut aturan moral&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="3" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: maroon;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;;"&gt;Thomas      Aquinas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;; color: maroon;"&gt;. Thomas berpendapat pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur menjadi aktif atau nyata tergantung pada kesadaran tiap-tiap individu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;; color: maroon;" lang="SV"&gt;Seorang guru bertugad untuk menolong membangkitkan potensi yang masih tersembunyi dari anak agar menjadi aktif dan nyata&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;; color: maroon;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="4" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(214, 0, 147);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Tempus Sans ITC&amp;quot;;"&gt;REKONSTRUKSIONISME&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Tempus Sans ITC&amp;quot;; color: rgb(214, 0, 147);" lang="SV"&gt; Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggeris rekonstruct yang berarti menyusun kembali. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Tempus Sans ITC&amp;quot;; color: rgb(214, 0, 147);"&gt;Dalam konteks filsafat pendidikan, aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran rekonstruksionisme, pada prinsipnya, sepaham dengan aliran pe&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Tempus Sans ITC&amp;quot;; color: rgb(214, 0, 147);" lang="SV"&gt;renialisme, yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern. Kedua aliran tersebut, aliran rekonstruksionisme dan perenialisme, memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan dan kesimpangsiuran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Tempus Sans ITC&amp;quot;; color: rgb(214, 0, 147);" lang="SV"&gt;proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruksionisme perlu merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru, untuk mencapai tujuan utama tersebut memerlukan kerjasama antar ummat manusia.&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Tempus Sans ITC&amp;quot;; color: rgb(214, 0, 147);" lang="SV"&gt;Tokoh-tokoh Rekonstruksionisme&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Tempus Sans ITC&amp;quot;; color: rgb(214, 0, 147);" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Tempus Sans ITC&amp;quot;; color: rgb(214, 0, 147);" lang="SV"&gt;Pandangan Rekonstruksionisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Tempus Sans ITC&amp;quot;; color: rgb(214, 0, 147);" lang="SV"&gt;Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Karenanya pembinaan kembali daya inetelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Tempus Sans ITC&amp;quot;; color: rgb(214, 0, 147);" lang="SV"&gt;Kemudian aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan hanya leori tetapi mesti menjadi kenyataan, sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi, mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6681692905049313265-9191303901863496595?l=wahyuniunindrabio2a.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/feeds/9191303901863496595/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6681692905049313265&amp;postID=9191303901863496595' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6681692905049313265/posts/default/9191303901863496595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6681692905049313265/posts/default/9191303901863496595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/2008/06/aliran-aliran-pendidikan-esensialisme.html' title=''/><author><name>sri wahyuni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18340717578851580625</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/__9FWAmLkVaQ/SAWrq-w-ozI/AAAAAAAAAAU/_GiS1ju7f7g/S220/Winter.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6681692905049313265.post-5503868883606170255</id><published>2008-06-19T21:37:00.001-07:00</published><updated>2008-06-19T21:37:22.206-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;I. FILOSOFIS PENDIDIKAN&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;      &lt;p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;" align="left"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1.  PENGERTIAN FILSAFAT&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.  &lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt; &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Ciri-ciri berfikir filosfi :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;li&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0pt; margin-left: -10px;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Berfikir dengan menggunakan disiplin berpikir yang tinggi.&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0pt; margin-left: -10px;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Berfikir secara     sistematis.&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0pt; margin-left: -10px;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Menyusun suatu skema konsepsi, dan&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0pt; margin-left: -10px;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Menyeluruh.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Empat persoalan yang ingin dipecahkan oleh filsafat ialah :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&lt;li&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -10px;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Apakah sebenarnya hakikat hidup itu? Pertanyaan ini dipelajari oleh Metafisika&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -10px;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Apakah yang dapat saya ketahui? Permasalahan ini dikupas oleh Epistemologi.&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -10px;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Apakah manusia itu? Masalah ini dibahas olen Atropologi Filsafat.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Beberapa ajaran filsafat yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;telah mengisi dan tersimpan dalam khasanah ilmu adalah:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;li&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -10px;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Materialisme, yang berpendapat bahwa kenyatan yang sebenarnya adalah alam semesta badaniah. Aliran ini tidak mengakui adanya kenyataan spiritual. Aliran materialisme memiliki dua variasi yaitu materialisme dialektik dan materialisme     humanistis.&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -10px;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Idealisme yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau intelegesi. Variasi aliran ini adalah idealisme subjektif dan idealisme objektif.&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -10px;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Realisme. Aliran ini berpendapat bahwa dunia batin/rohani dan dunia materi murupakan hakitat yang asli dan abadi.&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -10px;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Pragmatisme merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak bersikap mutlak (absolut) tidak doktriner tetapi relatif tergantung kepada kemampuan     minusia.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;         &lt;p class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Manfaat filsafat dalam kehidupan adalah :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;li&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -10px;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Sebagai dasar dalam bertindak.&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -10px;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Sebagai dasar dalam mengambil keputusan.&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -10px;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Untuk mengurangi salah paham dan konflik.&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -10px;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Untuk     bersiap siaga menghadapi situasi dunia yang selalu berubah.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;     &lt;p class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2.  FILSAFAT     PENDIDIKAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;    &lt;span style="font-size:78%;"&gt; &lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi     peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar     potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar     pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan     menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis.     guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat     yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Beberapa aliran filsafat pendidikan;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&lt;li&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -10px;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Filsafat pendidikan progresivisme. yang     didukung oleh filsafat pragmatisme.&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -10px;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Filsafat pendidikan esensialisme. yang     didukung oleh idealisme dan realisme; dan&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -10px;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Filsafat pendidikan perenialisme yang     didukung oleh idealisme.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks.  Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3.  ESENSIALISME DAN PERENIALISME&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;        &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt; Esensialisme berpendapat bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela yang mengatur dunia beserta isinya dengan tiada cela pula. Esensialisme didukung oleh idealisme modern yang mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam semesta tempat manusia berada.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Esensialisme juga didukung oleh idealisme subjektif yang berpendapat hahwa alam semesta itu pada hakikatnya adalah jiwa/spirit dan segala sesuatu yang ada ini nyata ada dalam arti spiritual. Realisme berpendapat bahwa kualitas nilai tergantung pada &lt;i&gt;apa&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;bagaimana keadaannya, &lt;/i&gt;apabila dihayati oleh subjek tertentu, dan selanjutnya tergantung pula pada subjek tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Menurut idealisme,         nilai akan menjadi kenyataan (ada) atau disadari oleh setiap orang apabila         orang yang bersangkutan berusaha untuk mengetahui atau menyesuaikan diri         dengan sesuatu yang menunjukkan nilai kepadanya dan orang itu mempunyai         pengalaman emosional yang berupa pemahaman dan perasaan senang tak senang mengenai nilai tersehut. Menunut realisme, pengetahuan terbentuk berkat bersatunya stimulus dan tanggapan tententu menjadi satu kesatuan. Sedangkan menurut idealisme, pengetahuan timbul karena adanya hubungan antara dunia kecil dengan dunia besar. Esensialisme berpendapat bahwa pendidikan haruslah bertumpu pada         nilai- nilai yang telah teruji keteguhan-ketangguhan, dan kekuatannya sepanjang         masa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Perenialisme berpendirian bahwa untuk mengembalikan keadaan kacau balau seperti sekarang ini, jalan yang harus ditempuh adalah kembali kepada prinsip-prinsip umum yang telah teruji. Menurut. perenialisme, kenyataan yang kita hadapi adalah dunia dengan segala isinya. Perenialisme berpandangan hahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sesuatu dinilai indah haruslah dapat dipandang baik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Beberapa pandangan tokoh perenialisme terhadap pendidikan:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;ol style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&lt;li&gt;             &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -10px;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt; Program             pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal (Plato)&lt;/span&gt;           &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;             &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -10px;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Perkemhangan budi merupakan             titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya ( Aristoteles)&lt;/span&gt;           &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;             &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -10px;" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt; Pendidikan             adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. (Thomas Aquinas)&lt;/span&gt;         &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;         &lt;p class="MsoNormal" align="left"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Adapun norma fundamental pendidikan menurut  J. Maritain adalah cinta kebenaran, cinta kebaikan dan keadilan,         kesederhanaan dan sifat terbuka terhadap eksistensi serta cinta         kerjasama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6681692905049313265-5503868883606170255?l=wahyuniunindrabio2a.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/feeds/5503868883606170255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6681692905049313265&amp;postID=5503868883606170255' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6681692905049313265/posts/default/5503868883606170255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6681692905049313265/posts/default/5503868883606170255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/2008/06/i.html' title=''/><author><name>sri wahyuni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18340717578851580625</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/__9FWAmLkVaQ/SAWrq-w-ozI/AAAAAAAAAAU/_GiS1ju7f7g/S220/Winter.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6681692905049313265.post-4298685506227066878</id><published>2008-04-13T00:05:00.000-07:00</published><updated>2008-04-13T00:07:02.948-07:00</updated><title type='text'>Guru yang profesional</title><content type='html'>Ditulis pada Mei 2, 2007 oleh zainurie&lt;br /&gt;Tidak mudah menjadi guru yang baik, dikagumi dan dihormati oleh anak didik, masyarakat sekitar dan rekan seprofesi. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh seorang guru untuk mendapat pengakuan sebagai guru yang baik dan berhasil.&lt;br /&gt;Pertama. Berusahalah tampil di muka kelas dengan prima. Kuasai betul materi pelajaran yang akan diberikan kepada siswa. Jika perlu, ketika berbicara di muka kelasa tidak membuka catatan atau buku pegangan sama sekali. Berbicaralah yang jelas dan lancar sehingga terkesan di hati siswa bahwa kita benar-benar tahu segala permasalahan dari materi yang disampaikan.&lt;br /&gt;Kedua. Berlakulah bijaksana. Sadarilah bahwa siswa yang kita ajar, memiliki tingkat kepandaian yang berbeda-beda. Ada yang cepat mengerti, ada yang sedang, ada yang lambat dan ada yang sangat lambat bahkan ada yang sulit untuk bisa dimengerti. Jika kita memiliki kesadaran ini, maka sudah bisa dipastikan kita akan memiliki kesabaran yang tinggi untuk menampung pertanyaan-pertanyaan dari anak didik kita. Carilah cara sederhana untuk menjelaskan pada siswa yang memiliki tingkat kemampuan rendah dengan contoh-contoh sederhana yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari walaupun mungkin contoh-contoh itu agak konyol.&lt;br /&gt;Ketiga. Berusahalah selalu ceria di muka kelas. Jangan membawa persoalan-persoalan yang tidak menyenangkan dari rumah atau dari tempat lain ke dalam kelas sewaktu kita mulai dan sedang mengajar.&lt;br /&gt;Keempat. Kendalikan emosi. Jangan mudah marah di kelas dan jangan mudah tersinggung karena perilaku siswa. Ingat siswa yang kita ajar adalah remaja yang masih sangat labil emasinya. Siswa yang kita ajar berasal dari daerah dan budaya yang mungkin berbeda satu dengan yang lainnya dan berbeda dengan kebiasaan kita, apalagi mungkin pendidikan di rumah dari orang tuanya memang kurang sesuai dengan tata cara dan kebiasaan kita. Marah di kelas akan membuat suasana menjadi tidak enak, siswa menjadi tegang. Hal ini akan berpengaruh pada daya nalar siswa untuk menerima materi pelajaran yang kita berikan.&lt;br /&gt;Kelima. Berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan siswa. Jangan memarahi siswa yang yang terlalu sering bertanya. Berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan siswa dengan baik. Jika suatu saat ada pertanyaan dari siswa yang tidak siap dijawab, berlakulah jujur. Berjanjilah untuk dapat menjawabnya dengan benar pada kesempatan lain sementara kita berusaha mencari jawaban tersebut. Janganlah merasa malu karena hal ini. Ingat sebagai manusia kita mempunyai keterbatasan. Tapi usahakan hal seperti ini jangan terlalu sering terjadi. Untuk menghindari kejadian seperti ini, berusahalah untuk banyak membaca dan belajar lagi. Jangan bosan belajar. Janganlah menutupi kelemahan kita dengan cara marah-marah bila ada anak yang bertanya sehingga menjadikan anak tidak berani bertanya lagi. Jika siswa sudah tidak beranibertanya, jangan harap pendidikan/pengajaran kita akan berhasil. Keenam. Memiliki rasa malu dan rasa takut. Untuk menjadi guru yang baik, maka seorang guru harus memiliki sifat ini. Dalam hal ini yang dimaksud rasa malu adalah malu untuk melakukan perbuatan salah, sementara rasa takut adalah takut dari akibat perbuatan salah yang kita lakukan. Dengan memiliki kedua sifat ini maka setiap perbuatan yang akan kita lakukan akan lebih mudah kita kendalikan dan dipertimbangkan kembali apakah akan terus dilakukan atau tidak.&lt;br /&gt;Ketujuh. Harus dapat menerima hidup ini sebagai mana adanya. Di negeri ini banyak semboyan-semboyan mengagungkan profesi guru tapi kenyataannya negeri ini belum mampu/mau menyejahterakan kehidupan guru. Kita harus bisa menerima kenyataan ini, jangan membandingkan penghasilan dari jerih payah kita dengan penghasilan orang lain/pegawai dari instansi lain. Berusaha untuk hidup sederhana dan jika masih belum mencukupi berusaha mencari sambilan lain yang halal, yang tidak merigikan orang lain dan tidak merugikan diri sendiri. Jangan pusingkan gunjingan orang lain, ingatlah pepatah “anjing menggonggong bajaj berlalu.”&lt;br /&gt;Kedelapan. Tidak sombong.Tidak menyombongkan diri di hadapan murid/jangan membanggakan diri sendiri, baik ketika sedang mengajar ataupun berada di lingkungan lain. Jangan mencemoohkan siswa yang tidak pandai di kelas dan jangan mempermalukan siswa (yang salah sekalipun) di muka orang banyak. Namun pangillah siswa yang bersalah dan bicaralah dengan baik-baik, tidak berbicara dan berlaku kasar pada siswa.&lt;br /&gt;Kesembilan. Berlakulah adil. Berusahalah berlaku adil dalam memberi penilaian kepada siswa. Jangan membeda-bedakan siswa yang pandai/mampu dan siswa yang kurang pandai/kurang mampu Serta tidak memuji secara berlebihan terhadap siswa yang pandai di hadapan siswa yang kurang pandai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6681692905049313265-4298685506227066878?l=wahyuniunindrabio2a.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/feeds/4298685506227066878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6681692905049313265&amp;postID=4298685506227066878' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6681692905049313265/posts/default/4298685506227066878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6681692905049313265/posts/default/4298685506227066878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/2008/04/guru-yang-profesional.html' title='Guru yang profesional'/><author><name>sri wahyuni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18340717578851580625</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/__9FWAmLkVaQ/SAWrq-w-ozI/AAAAAAAAAAU/_GiS1ju7f7g/S220/Winter.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6681692905049313265.post-9068433535430526018</id><published>2008-04-02T20:32:00.000-07:00</published><updated>2008-04-02T21:17:50.076-07:00</updated><title type='text'>pendidikan dan pengajaran</title><content type='html'>1. &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;saya setuju pengertian pendidikan yang ke 2"pendidikan adalah pengaruh bimbingan dan arahan dari orang dewasa kepada orang lain,untuk menuju kearah kedewasaan,kemandirian serta kematangan mentalnya. karena pendidikansebagai proses pembentukan pribadi bayi yang baru lahir kepribadiaanya belum terbentuk belum mempunyai warna dan corak kepribadian yang tertentu,ia baru merupakan induvidu belum suatu pribadi,untuk menjadi suatu pribadi perlu mendapatkan bimbingan,latihan,pengalaman melalui bergaul dengan lingkungan,kususnya dalam lingkungan pendidikan .dalam proses ini peran orang dewasa sangat berpengaruh terhadap kepribadiaan bayi.&lt;br /&gt;Untuk orang dewasa tetap dituntut adanya pengembangan diri agar kualitas kepribadiaanya meningkat serempak dengan meningkatnya tantanga hidup yang selalu berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pengajaran dan pendidikan dapat dibedakan,tetapitidak dapat dipisakan satu sama lain.masing-masing saling mengisi.&lt;br /&gt;perbedaanya adalah:&lt;br /&gt;PENDIDIKAN(EDUCATION)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;lebih menekankan pada pembentukan manusianya(penanaman sikap dan nilai-nilai).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;waktu relatif panjang panjang(seumur hidup)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Metode lebih bersifat psikologis dan pendekatan manusiawi.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;PENGAJARAN(INSTRUKSION)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Lebih menengkankan pada penguasaan wawasan dan pengetauan tentang bidang/program tertentu misalnya kedokteran,pertanian,skiil.dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;waktu relatif pendek.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Metode lebih bersifat rasional teknis praktis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;CONTOH:&lt;br /&gt;Pengajaran, anak diajar menulis yang baik.guru mengajarkan tatacara sholat yang benar.&lt;br /&gt;pendidikan,anak dikembangkan kegemarannya untuk nulis yang baik,orang tua membiasakan anaknya untuk sholat tepat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Pendidikan itu bersifat normatif,yaitu mengandung unsur norma yang memaksa,tetapi tidak bertentangan dengan hakikat  perkembangan perseta didik,dapat diterima olrh masyarakat sebagai nilai hidup yang baik.&lt;br /&gt;3. menurut saya posisi eskalasi mental seseorang pada proses pendidikanya,karena pendidikan membentukmental dan kepribadian seseorang,pendidikan tu berlangsung sepanjang hidup manusia.pendidikan itu tidak identik dengan dengan persekolahan ,kita bisa belajar dari pengalaman kita sehari-hari.dengan pengalaman itu bisa menambah kedewasaan kita, pendidikan tu berguna untuk mempersiapkan kehidupan yang lebih kekal lagi yaitu akhirat.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6681692905049313265-9068433535430526018?l=wahyuniunindrabio2a.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/feeds/9068433535430526018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6681692905049313265&amp;postID=9068433535430526018' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6681692905049313265/posts/default/9068433535430526018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6681692905049313265/posts/default/9068433535430526018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/2008/04/pendidikan-dan-pengajaran.html' title='pendidikan dan pengajaran'/><author><name>sri wahyuni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18340717578851580625</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/__9FWAmLkVaQ/SAWrq-w-ozI/AAAAAAAAAAU/_GiS1ju7f7g/S220/Winter.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6681692905049313265.post-1365893394280425185</id><published>2008-03-26T21:16:00.000-07:00</published><updated>2008-03-26T21:23:34.272-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>PERMEN NO 23 TAHUN 2006 TENTANG SKL SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAHSUGENG SANTOSO&lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESAMENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,Menimbang    :    bahwa dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 27 ayat (1)   Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk  Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah; Mengingat    :    1.    Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);2.    Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496);3.    Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tatakerja Kementrian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2005;4.    Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 mengenai Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir  dengan Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005;        Memperhatikan : Surat Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan Nomor 0141/BSNP/III/2006 tanggal 13 Maret 2006, Nomor 0212/BSNP/V/2006 tanggal 2 Mei, dan Nomor 0225/BSNP/V/2006 tanggal 10 Mei 2006;MEMUTUSKAN :Menetapkan        :        PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL TENTANG STANDAR KOMPETENSI LULUSAN UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH.Pasal 1(1)    Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik.(2)    Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah, standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran, dan standar kompetensi lulusan  minimal mata pelajaran.(3)    Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum pada Lampiran  Peraturan Menteri ini. Pasal 2Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.    Ditetapkan di Jakarta    pada tanggal  23 Mei 2003    MENTERI  PENDIDIKAN NASIONAL,                     TTD.     BAMBANG SUDIBYO                            &lt;br /&gt;Perundangan Lainnya&lt;br /&gt;Total 6 perundanganPerundangan 4 - 6&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.cbe-indonesia.org/id/perundangan.php?aksi=detail&amp;amp;id=3"&gt;PERMEN NO 22 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR ISI UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH&lt;/a&gt; 11 September 2007PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONALREPUBLIK INDONESIA NOMOR    22 TAHUN 2006TENTANGSTANDAR ISI UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.cbe-indonesia.org/id/perundangan.php?aksi=detail&amp;amp;id=2"&gt;PERATURAN TENTANG SERTIFIKASI GURU PERMEN NO 18 TAHUN 2007&lt;/a&gt; 11 September 2007PERATURANMENTERI PENDIDIKAN NASIONALREPUBLIK INDONESIANOMOR 18 TAHUN 2007TENTANGSERTIFIKASI BAGI GURU DALAM JABATANDENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESAMENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6681692905049313265-1365893394280425185?l=wahyuniunindrabio2a.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/feeds/1365893394280425185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6681692905049313265&amp;postID=1365893394280425185' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6681692905049313265/posts/default/1365893394280425185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6681692905049313265/posts/default/1365893394280425185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahyuniunindrabio2a.blogspot.com/2008/03/permen-no-23-tahun-2006-tentang-skl.html' title=''/><author><name>sri wahyuni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18340717578851580625</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/__9FWAmLkVaQ/SAWrq-w-ozI/AAAAAAAAAAU/_GiS1ju7f7g/S220/Winter.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
